WARTA 24 BALI

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Masih ada pengungsi yang belum mendapat bantuan

Posted by On 15.13

Masih ada pengungsi yang belum mendapat bantuan

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Sebanyak 35 keluarga pengungsi tinggal di Balai Banjar Batang, Desa Labasari, Karangasem, Bali, Rabu (29/11/2017).
Sebanyak 35 keluarga pengungsi tinggal di Balai Banjar Batang, Desa Labasari, Karangasem, Bali, Rabu (29/11/2017).
© Anton Muhajir /Beritagar.id

Seminggu letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, aliran bantuan bagi para pengungsi belum sesuai harapan. Para pengungsi yang ditemui Beritagar.id di Karangasem pada Rabu (29/11/2017), mengaku belum mendapat bantuan sama sekali.

Itu sebabnya, seb agian pengungsi memilih pindah ke rumah kerabat atau tidak mengungsi sama sekali meski daerah huniannya masuk kawasan paling berisiko.

Para pengungsi yang belum mendapatkan bantuan sama sekali itu, misalnya, di Banjar (Dusun) Dinas Batang, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Mereka berasal dari Banjar Beluhu Kangin, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi pengungsian saat ini.

Menurut peta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), desa ini termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) II atau Zona Kuning. Artinya, semua warga harus mengungsi dari sana saat Gunung Agung berstatus AWAS (Level 4) sejak Senin (27/11).

Masyarakat desa yang berjarak sekitar 90 km dari Denpasar itu mengungsi ke lima titik sekitar, termasuk Desa Labasari. Di sana terdapat 35 keluarga pengungsi, sebagian besar adalah ibu dan anak-anak.

Adapun para laki-laki kembali ke desa untuk bekerja seperti biasa. Salah satu keluarga pengungsi adal ah pasangan suami istri I Wayan Laba (45) dan Ni Nyoman Simpen (40).

Mereka memiliki enam anak, tetapi dua anak lain tidak ikut mengungsi karena sudah terpisah. Seperti pengungsi lain, mereka mengungsi ke lokasi sesuai keinginan sendiri pada saat krisis fase pertama --September 2017.

Saat itu mereka memilih ke Desa Tiying Tali karena merasa lebih aman dan nyaman. "Kami disuruh mengungsi di dekat desa katanya biar mudah mendapatkan bantuan," kata Laba.

Pemerintah kebetulan memang memberi instruksi agar warga diungsikan ke tempat terdekat. Itu yang dikatakan Kepala Dusun Beluhu Kangin, Komang Sujata.

Pada fase pertama pengungsian, jumlah pengungsi mencapai 700 kepala keluarga (KK) ke berbagai tempat di Bali. Akibatnya, dia kesulitan mendata jumlah pengungsi atau menyalurkan bantuan.

"Sekarang warga mengungsi ke tempat lebih dekat untuk memudahkan pendataan dan pengiriman logistik," kata Sujata.

Alasan lain, Sujata menambahkan, a gar warga bisa lebih mudah untuk pergi-pulang dari dan ke desanya saat situasi sudah aman. Biasanya pada pagi hari warga pulang ke rumah untuk mengurus kebun dan ternak, lalu kembal Mereka kembali ke pos pengungsian.

"Kalau dulu warga cepat bosan karena tidak ada kegiatan. Makanya mereka malah balik ke rumahnya tanpa koordinasi," Sujata melanjutkan.

Wayan Jeneg, warga Dusun Muntig, Karangasem, Bali, belum mengungsi meski wilayahnya masuk dalam KRB letusan Gunung Agung, Rabu (29/11/2017).
Wayan Jeneg, warga Dusun Muntig, Karangasem, Bali, belum mengungsi meski wilayahnya masuk dalam KRB letusan Gunung Agung, Rabu (29/11/2017).
© Anton Muhajir /Beritagar.id

Namun berada di lokasi pengungsian yang dekat dengan dusunnya ternyata tidak menjamin bantuan cepat sampai. Laba dan keluarganya mengaku belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, misalnya sembako dan perlengkapan sehari-hari.

Akibatnya, mereka pun harus urunan untuk makan sehari-hari. Laba mengaku hanya membawa uang Rp 50.000 selama mengungsi.

"Sudah tidak punya uang karena tidak bekerja selama mengungsi," katanya.

Urunan dalam kelompok pengungsi itu mereka gunakan untuk membeli kebutuhan seperti beras, tahu, tempe, dan sayur. Dalam satu kelompok ada 10-15 orang. Mereka memasak secara berkelompok dengan urunan Rp 15.000 per orang untuk kebutuhan satu hari.

Sementara untuk air minum, mereka memasak air PDAM. "Kalau harus membeli air juga, uang kami pasti cepat habis," Sujata menimpali.

Ni Luh Artini (28), seorang pengungsi lain, menambahkan bahwa kesulitan bantuan justru terjadi setelah mengungsi. Padahal tindakan mengungsi adalah imbauan pemerintah.

Padahal Artini dan tiga anaknya pernah me ngungsi ke Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, pada September lalu. "Dulu bantuan lancar. Bisa dapat sayur, mie, dan beras. Sekarang harus lapor dulu pun tidak dapat-dapat juga," ujarnya.

Menurut Sujata, jika tidak ada bantuan apapun dari pemerintah, maka 35 keluarga yang mengungsi di Banjar Batang tidak bisa makan lagi setelah seminggu tinggal di sana.

Gede Waskita, Kepala Bagian Humas Pemkab Karangasem sekaligus Humas Pusat Komando Bencana Gunung Agung mengatakan, pemerintah memang mengimbau warganya untuk mengungsi ke wilayah Karangasem saja. Jadi imbauan bukan untuk mengungsi ke kabupaten lain seperti Klungkung dan Buleleng, sebagaimana terjadi pada saat krisis fase pertama, September 2017.

Senada dengan Sujata, dia beralasan hal itu untuk memudahkan pendataan dan pengiriman bantuan. "Kalau mengungsi di wilayah kami sendiri kan tidak ada lagi alasan pengungsi tidak mendapatkan bantuan," katanya melalui sambungan telepon.

Namun, ketika ditanya tentang adanya pengungsi yang belum mendapatkan bantuan sebagaimana terjadi di Rendang dan Abang, Waskita mengatakan mungkin karena para pengungsi itu mengungsi secara mandiri.

Setelah dijelaskan bahwa pengungsi itu menuruti imbauan pemerintah, dia menjawab lain lagi. "Tidak mungkin mereka kekurangan. Kami memiliki bahan logistik untuk pengungsi lebih dari cukup. Melimpah," katanya.

Hingga Rabu petang, jumlah pengungsi akibat erupsi Gunung Agung sendiri terus bertambah. Sehari sebelumnya, jumlah pengungsi 38.678 jiwa yang berada di 225 lokasi.

Sehari kemudian, jumlah pengungsi menjadi 43.358 jiwa di 229 lokasi. Mereka berasa dari desa-desa di KRB erupsi Gunung Agung.

Sementara sejumlah warga masih enggan mengungsi meski desanya masuk dalam KRB. Seorang di antaranya, Wayan Jeneg (72), mengaku pernah mengungsi ke Desa Culik tapi akhirnya kembali ke desanya.

"Tiang (saya) tidak bisa tidur di pengungsian. Terlalu rama i," ujar penyintas letusan Gunung Agung pada 1963 itu.

Dia pun memilih kembali ke rumahnya yang berada persis di kaki Gunung Agung meski sudah sering diperingatkan petugas untuk mengungsi. "Kalau sudah meletus, nanti tiang baru mengungsi lagi," katanya santai.

Sumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Batang

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »